*sesali tak sejak dulu ku miliki dirimu. Ternyata kaulah yang paling mengertiku* kunyanyikan sebuah lagu sambil diiringi petikkan dawai gitar yang merdu hanya untuk kamu, Nisya Kiyara. Semoga kamu mendengarnya di kejauhan sana =)
Pelangi
dari Tuhan
Deringan
telepon genggamku membangunkan tidurku yang lelap. “siaaal, dasar anak baweeel”
gerutuku dalam hati saat mengetahui bahwa itu sekedar misscall dari Icha. Tanpa
memperdulikan kelakuan isengnya yang sudah sangat sering seperti itu, akupun
melanjutkan tidurku di hari libur yang tenang ini.
“Dikaaa,
bangun dooong. Ini aku, Vera” suara lembut itu kali ini membuat aku sangat
bersemangat untuk membuka mata.
“Ichaaaaaaaaa!
Ngapain sih lo ada disini? Trus, mana Vera? Lo dateng sama dia kan?” bukannya
menjawab semua pertanyaanku, anak ingusan ini malah ketawa cekikikan. Eiiits,
jangan bilang kalo yang ngebangunin gue tadi itu lo mak lampir?!”
“haaas,
ga asik lo Cha. Tau gini gue ga bakalan bangun. Tadi itu mimpi gue yang paling
indah tauuuk, mana ada Vera lagi di dalem mimpi gue.” Jawabku kecewa karena
bukan Vera yang aku liat, melainkan Nisya Kiyara sahabat gila yang aku punya
selama 6tahun silam. Lebih tepatnya sejak kelas 1smp sampai sekarang. Entah
nasib apa yang bikin aku bertemu sama cewek gila yang suka banget sama coklat.
Tapi dengan adanya dia, hidupku jadi lebih berwarna. Dia cewe yang simple, ga
butuh banyak kosmetik saat pergi keluar rumah. Dia bukan seorang cewe tomboy
seperti kebanyakan cewe lainnya yang alergi sama kosmetik, tapi dia juga bukan
cewe feminim yang ga bisa hidup tanpa kosmetik. Dia cewe yang asik, baik,
ceria, bisa diajak berbagi dalam keadaan apapun, sederhana namun menyimpan
sejuta harta yang bakal buat temen-temennya bahagia kalo lagi ada di deket dia.
Udah
banyak kenangan yang aku ciptain bareng cewe bertubuh tidak terlalu tinggi itu.
Terik matahari, dinginnya kala penghujan datang, sejuknya udara yang menemani
hari-hariku bersamanyapun sudah akrab akan hadirnya Icha. Entah apa yang membuat
aku dan Icha terus bersahabat sampai sekarang. Kita tidak selalu berdua,
hadirnya cewe baruku tidak mengusik keakraban antara aku dan Icha. Sejak
berteman dengannya sudah berkali-kali aku berganti pasangan. Namun tidak dengan
Icha. Dia tetap saja menjomblo, bahkan sampai sekarang. Mungkin karena Icha ga
pernah cerita atau memang dia ga pernah ngerasain jatuh cinta sama lawan
jenisnya. Tapi setauku Icha anak yang sangat terbuka. Dia mau bercerita apapun
tentang kehidupannya, bahkan dia ga pernah
malu menceritakan pengalamannya yang sangat pribadi. Hahaha ya itulah
Icha, cewe yang super cerewet, cengeng, keras kepala namun setia kawan. Aku ga
tau apa yang terjadi kalo suatu saat Tuhan menjauhkan kami.
“jalan
yuk Dik, bosen tauk liburan gini Cuma di rumah aja” rengek Icha yang pagi-pagi
banget udah nongol di rumahku.
“mau
jalan kemana Nisya Kiyara???” tanyaku sebal. Bayangin aja tidur lelap dan mimpi
indahku begitu saja dia hancurkan tanpa ada hak apapun.
“temenin
liat pelangi” pintanya sambil sedikit cemberut.
“aduh
Ichaaa, pagi-pagi gini mana ada pelangi? Tujuh bidadari cantiknya kan pada
belom bangun. Lagian, satu bidadarinya lagi ada di hadapan gue sekarang” sambil
mengusap kepala Icha dan berharap dia mau mengurungkan niatnya yang konyol di
pagi yang tenang ini.
“ah
dasar lo Dik. Jangan belajar ngerayu Vera di depan gue deh. Ayo Diiik, pliiis
mau ya”
“Mas
Dika jahat deh, masa mbak Icha udah cantik begitu mas ga mau nemenin mbak Icha.
Kasian lho mas. Lagian udah dari tadi pagi mbak Icha disini. Sambil nungguin
mas bangun tidur, mbak Icha udah bantuin si mbok sama mamanya mas masak buat
sarapannya mas Dika. Nih ini dia masakan yang mbak Icha bikin buat mas Dika.”
Cerocos mbok Inah sambil menyodorkan sepiring nasi goreng buatan Icha dan
segelas air susu hangat yang sayang banget kalo ga aku abisin. Apalagi aku tau
banget kalo masakan Icha enak, ya meskipun cuma sekedar nasi goreng.
“aduuuh
si mbok ini, saya jadi ga bisa nolak ajakan cewe gila ini deh mbok”
“jadi...lo
mau nemenin gue liat pelangi Dik?” tanyanya riang. Ini yang aku suka dari Icha,
dia gapernah murung ataupun keliatan sedih. Wajah riangnya selalu ngisi
hari-hariku.
“iya
Nisyaaaaaaaaaa” jawabku lembut sambil memegang kepala Icha dan menatap matanya.
Dia terlihat sangat manis tak seperti biasanya.
Hari
itupun aku dan Icha menghabiskan hari hanya berdua. Dari pagi sampai malam kita
terus mencari dimana pelangi. Namun tak ada sedikitpun sinar pelangi yang aku
dan Icha lihat. Walau dia sempat kecewa, namun hal itu dengan segera hilang
ketika sinaran kunang-kunang menemani kita menghabiskan malam yang dingin
berdua. “indah ya Cha, kamu suka?” tanyaku kepada gadis yang kehadirannya
sangat berharga untukku ini.
“Iya
Dik, indah banget. Tapi bukan ini yang mau gue kasih ke lo” Icha menatapku kecewa.
“emangnya
lo mau ngasih gue apaan Cha?” aku sedikit bingung dengan ucapan Icha malam itu.
“gue
pengen ngasih pelangi buat lo hari ini Dik. Biar bisa warnain hari-hari lo
kedepannya” tidak lama kemudian air matanya menetes pelan di pipi lembutnya.
“hey,
gue ga lagi ulang tahun Cha. Buat apa lo ngasih gue pelangi? Bukanya lo yang
pengen banget liat pelangi? Lagian tanpa pelangi hidup gue udah berwarna bareng
lo Cha” ku usap perlahan air mata yang mengalir di pipi sahabat yang amat aku
sayangi. “udah dong Cha, jangan nangis. Kalo hari ini ga ada pelangi, mungkin
beso atau lusa dia bakalan dateng ko. Mungkin aja Tuhan pengen ngeliatin ke lo
ciptaanya yang juga indah. Tuh liat, kunang-kunangnya lagi nungguin senyum
manis dari bibir lo” usahaku menenangkan Icha pun berhasil. Senyum manis
kemballi mekar di wajah Icha.
Setelah
beberapa lama mengahbiskan malam bersama kunang-kunang, aku dan Icha bergegas
pulang. Malam sudah larut, Icha pun sudah nampak sangat mengantuk dan lelah.
Liburan
akhir tahun masih sangat lama. Setelah menyelesaikan ujian sekolah dan ujian
nasional aku, Icha dan teman-teman seangkatanku mendapatkan libur panjang.
Tidak seperti liburan yang telah lalu, biasanya Icha sudah mempersiapkan jadwal
untuk kita menghabiskan hari libur. Semenjak hari itu Icha ga sedikitpun
nongolin batang hidungnya di hadapanku. Mungkin karena dia sibuk atau ada
urusan penting yang menyita banyak waktunya. Pesan singkat dan teleponku
beberapa hari ini ga ada yang diangkat ataupun dibales. Mungkin aja Icha lagi sibuk
nyelesaiin beberapa lukisannya. Lagi pula karena supir mama lagi cuti selama
sebulan, jadi setiap harinya aku harus nganter jemput mama ke kantornya yang lumayan jauh dan ga
searah sama rumah Icha, jadi belum sempat aku nyamperin Icha di rumahnya.
Tiga
minggu berlalu sejak aku dan Icha menghabiskan seharian bersama, aku dan Icha
belum sempat bertemu lagi. Bahkan sekedar bertukar kabarpun tidak. Hari ini
mama berangkat ke Singapura, jadi selama beberapa hari kedepan aku ga harus
lagi anter jemput mama. So, akhirnya aku ada waktu untuk sekedar menghamppiri
Icha di rumahnya.
“cha,
gue ke rumah lo sekarang” segera ku kirim pesan singkat ke ponsel Icha. Namun
sial, smsku pending. Nomer Icha ga aktiv.
Akupun
memutuskan untuk menunda kehadiranku di rumah Icha siang ini. Mungkin agak
malaman aja aku pergi kerumah cewe bawel itu.
Jam pun
terasa cepat. Sudah di pukul tujuh jarum jam bergerak. Aku bergegas
bersiap-siap untuk pergi ke rumah Icha. Namun “kriiiiing...kriingkriiing” suara
telpon rumahku menghentikan langkahku yang terburu-buru menuju garasi rumah.
Ternyata mbok Inah sudah mengangkatnya terlebih dulu. Akupun segera kembali ke
garasi untuk mengambil motor.
“mas
Dikaaa, maaaas ada telpon dari mamanya mbak Icha” teriak mbok Inah dari depan
rumah yang dengan seketika menghentikanku yang tengah mengendarai motor.
Untungnya saja aku masih di depan pintu gerbang.
“dari
Tante Ruri mbok?” tanyaku heran. “Kenapa harus tante Ruri yang menelponku,
kenapa bukan Icha?” pikirku dalam hati sambil menuju meja telpon di ruang tamu.
“katanya
sih ada yang penting mas”
“malem
tante, ini Dika. Ada apa ya te?”
“Dika,
Ichaaa...” suara tante Ruri terputus-putus.
“iya,
Icha kenapa tante? Dia pergi dari rumah lagi?” tanyaku akan kebiasaan Icha yang
pergi dari rumah saat dia merasa tidak nyaman. Tapi, kali ini dia tidak memberi
tahuku dimana keberadaanya. Biasanya Icha selalu menghubungiku saat dia pergi
dari rumah.
“buakan
sayang. Icha butuh kamu. Hanya kamu harapan tante satu-satunya Dik”
“tante
bicara apa? Dika ga paham te” aku mulai panik dengan apa yang Tante Ruri
sampaikan.
“RS. Cinta
Kasih, kamar pelangi V no.19. kamu cep....tuuututuuuut” suara di sebrang
sanapun terputus.
Tanpa
pikir panjang akupun menghampiri RS. Cinta Kasih yang tante Ruri katakan tadi.
Perasaanku ga enak. Sangat ga enak. “ada apa dengan Icha?” aku terus bertanya
dalam hati. Keringat dinginpun menetes deras di tubuhku. Tangan dan kakiku
gemetar. Secepat mungkin aku menyetir motor merah yang biasanya aku dan Icha
tumpangi. Otakku sudah tak bisa berpikir jernih. Semuanya kacau. Yang ada di
pikiranku hanyalah Nisya Kiyara sahabatku, orang yang sangat aku sayang dan
sangat aku harapkan ke hadiranya.
“dimana
Icha tante?”
“di dalam
sana Dik. Tolong tante, hanya kamu harapan terakhir tante”
“tante,
Dika masuk ke dalam ya” aku meminta izin untuk memasuki ruangan serba putih yang
terlihat hening itu diurungkan oleh tante Ruri.
“Icha
baru selesai di periksa keadaanya, jadi belum ada seorangpun yang boleh
mendekatinya. Mungkin sekitar sejam-an lagi Dik.” Jelas Ibu yang matanya
membengkak karena keadaan putri kesayangnya yang kini mencemaskan banyak orang,
terutama aku.
“sejak
kapan Icha disini te? Icha sakit apa?”
“sejak
sehari setelah Icha pergi ke rumahmu Dik. Sebenarnya sudah lama Icha mengidap
sakit leukimia. Sekitar 3tahun yang lalu. Namun Icha memohon sama tante untuk
tidak memberitahukan siapaun termasuk kamu. Mungkin tante bodoh mau memenuhi
permohonanya, tapi tante ga tega liat dia sedih kalo kamu tau penyakit yang
menyerangnya.” Sambil menangis beliau terus menceritakan yang sebenarnya.
“Ichaaa,
begok banget sih lo. Tau gini gue bakal jagain lo tiap detik Cha, ga bakal
ninggalin lo sedetikpun, bahkan semua keinginan bodoh lo bakal gue wujudtin”
ocehku yang semakin menyalahkan diriku sendiri. “gue emang begok. Kenapa ga
dari kemaren-kemaren aja gue nyamperin lo Cha. Maafin gue Cha” aku tertunduk
lesu.
“Dika,
sebelum Icha koma dia sempat bercerita sedikit dengan tante. Dia menceritakan
betapa senangnya dia menghabiskan hari denganmu saat itu. Walaupun dia sempat
kecewa karena tidak ada pelangi yang ingin dia kasih buat kamu. Dia sangat
ingin memberimu pelangi, karena dia takut dia ga bisa lagi memberi warna di
hidupmu setelah di benar-benar pergi dari kehidupanmu selamanya. Itulah yang
membuat dia terus merengek sama Dika untuk menemaninya melihat pelangi.
Sebenarnya Icha sangat menyayangimu lebih dari sahabat Dik. Terkadang dia
cemburu saat mengetahui kamu punya pacar baru. Namun dia berusaha untuk tetap
menyembunyikan semua perasaanya. Dia tahu bahwa kamu ga pernah sedikitpun
tertarik sama Icha, makanya dia memilih untuk terus bersahabat denganmu. Banyak
kenangan yang dia ceritakan sama tante sehari sebelum dia koma dan terpejam
sampai sekarang. Yaaah, itulah Icha. Dia mau menyembunyikan apa yang dia rasakan
demi menjaga persahabatan kalian.” Penjelasan tante Ruri pun terputus oleh
tangisanya yang semakin deras. Aku pun terdiam tak percaya. Icha ternyata
menyimpan perasaan yang sama denganku. Sebenarnya aku menyukai Icha sejak
setahun setelah berkenalan denganya. Namun aku takut melukai hatinya dan
persahabatan kitapun terputus. Aku memilih untuk diam dan mencoba mencari cewe
lain yang bisa mewakili Icha di dalam hatiku. Namun tak ada satupun yang bisa,
sekalipun Vera cewe cantik yang menyandang ketua osis di sekolahku.
“Bagi gue
ga ada yang lebih cantik selain elo Cha. Dalam keadaan seperti inipun lo masih
tetap kelihatan cantik. Ayo bangun Cha, kita abisin waktu bareng-bareng lagi.
Liburan masih tersisa beberapa minggu lagi. Lo ga pengen ajakin gue pergi ke
pantai? Atau makan eskrim di tempat biasanya? Cha, bentar lagi kita jadi
mahasiswa. Bangun dong Cha, kita daftar kuliah bareng. Hidup gue hambar tanpa
lo Cha. Apa lo ga pengen gangguin tidur lelap dan mimpi-mimpi indah gue lagi?
Apa lo udah bosen masakin gue nasi goreng buatan lo? Ichaaa, plis dengerin gue
dan bangun dari tidur panjang lo! Lo harus temenin hari-hari gue lagi Cha.
Katanya lo pengen ngasih gue pelangi? Ayo kita cari pelangi, tapi setelah
pelangi itu ada gue pengen lo yang gantiin pelangi itu. Karena sejatinya lo itu
pelangi dalam idup gue Cha. Gue sayang lo! Sayang banget, sama kayak lo sayang
sama gue lebih dari sahabat.” Sambil terus menggenggam tangan Icha, tak
hentinya aku memintanya untuk segera bangun dari tidur lelapnya. Entah kekuatan
dari mana Icha pun membuka ke dua bola matanya yang indah namun sedikit berbeda
dari biasanya, sedikit nampak sayu. “Cha, ini gue Dika” ucaklu perlahan sambil
mengelus tangan Icha. Akhirnya Icha terbangun dari tidurnya selama ini.
“Dik,
ngapain lo disini? Pasti mama yang nelpon lo ya?”
“gue
disini buat bangunin tidur lelap lo, abisnya lo lama banget tidurnya. Iya, mama
lo panik dan akhirnya nelpon gue buat kesini. Lo tuh ya, jahat banget ga
ngabarin gue kalo lo lagi disini.”
“gue mana
sempet pegang hp begok” jawabnya ketus namun sangat membuatku sedikit lega
melihat Icha sudah bisa kembali berbicara.
“iya-iya,
udah nona manis istirahat dulu ya. Jangan terlalu banyak ngomel, ntar dimarahin
dokternya lhooo”
Selama
beberapa jam aku dan Icha berbasa-basi seperti biasanya walaupun sekarang
keadaan Icha sedikit berbeda. Setidaknya Icha sudah bisa tersenyum.
Genap
sebulan Icha di rawat akhirnya dia di bolehkan pulang ke rumah oleh dokter,
namun harus kembali kontrol dua minggu sekali. Selama liburan aku terus menjaga
Icha. Menurut pandanganku keadaan Icha semakin mebaik. Dia sudah bisa
beraktifitas sendiri tanpa harus selalu ku bantu. “Tuhan, jangan jadikan ini
sekedar mimpi indahku di siang bolong. Aku ingin kembali mengahbiskan waktu
bersamanya. Bersama gadis yang sangat aku sayangi. Amin.” Inilah doa yang aku
panjatkan setiap aku selesai beribadah dan saat aku menata ke dua bola mata
Icha.
Seminggu
setelah kembalinya Icha di rumahnya, aku menyatakan persaanku kepadanya. Icha
sempat menolak, namun berkat bantuan dari tante Ruri, aku dan Icha pun resmi
berpacaran.
“sayang,
udah yuk mainya. Udah gerimis dan kakyaknya mau ujan.” Ajakku kepada pacar
baruku yang sedang melukis di halaman rumahnya.
“sebentar,
kurang beberapa goresan kuas lukisanku selesai”
Tak lama
kemudian hujan pun turun dengan sangat lebat. Aku dan Icha melihatnya dari
dalam rumah. Kami menghabiskan waktu di dalam rumah dengan bercerita dan
berbagai aktivitas lainnya. Sesekali aku menggenggam tangan Icha, terasa sangat
dingin seperti saat Icha tergeletak di dalam rumah sakit lalu. Setelah film
yang kami putar selesai, hujan pun reda seolah ikut berhenti saat film *
Pelangi dari Tuhan * yang merupakan film favorit Icha selesai.
“Dik,
lihat itu” sambil menunjuk ke atas, ke arah langit lebih tepatnya.
“iya, ada
apa sayang? Langit sangat cerah, kamu mau melukis lagi di luar?” tanyaku yang
saat itu sedang menopang badan Icha yang semakin melemah. “kamu kenapa sayang?
Badan kamu lemes banget. Kamu ga kenapa-kenapa kan Cha?” aku mulai panik.
“sayang,
itu ada pelangi. Akhirnya Tuhan memberikan pelangi buat kamu untuk
menggantikanku” tatap Icha yang membuat mataku berkaca-kaca.
“Icha,
kamu ga akan pergi kan. Aku ga butuh pelangi itu. Aku Cuma butuh kamu, bagiku
kamu lebih indah dari pelangi di atas sana. Sayang, ayo kita ke rumah sakit.”
Aku semakin cemas melihat keadaan kekasih yang amat aku sayangi. “oh Tuhan,
tolong panjangkan umur Icha” doaku dalam hati.
“AKU
SAYANG KAMU, ANDIKA KIFANO” Icha pun memejamkan kedua bola matanya.
Kali ini
Nisya Kiyara memejamkan matanya untuk selamanya. Dia benar-benar pergi dari
hidupku. Dia benar-benar meninggalkanku dan orang-orang yang menyayanginya.
Icha terlalu indah untuk dilupakan. Tuhan terlalu cepat memintanya untuk
kembali. Mungkin Tuhan lebih memerlukannya daripada aku. Icha, kehadiranmu
terlalu indah dan terlalu singkat dalam kehidupanku. Terima kasih untuk semua
yang kamu kasih buat aku sayang. Kamu memang gadis yang sempurna, kekasih dan
sahabat yang setia. Dirimu tak akan terganti.
Hari-hariku
sepi tanpa Icha. Hanya lukisan yang bergambarkan seorang gadis membawa pelangi
inilah teman setiaku saat ini. Saat aku merindukanmu, lukisan inilah pelipur
laraku. Kini, aku harus melaluinya sendiri. Menghabiskan waktuku tanpa senyuman
manisnya, tak ada lagi tangis cengengnya dan tak ada lagi celotehan bawel dari
bibir Icha.
“Cha,
hari ini aku ospek di universitas impian kita. Lihat dan temani aku dari sana
ya sayang.”
23jan12 -monyet-



0 komentar:
Posting Komentar