Pelangi dari Tuhan =)


*sesali tak sejak dulu ku miliki dirimu. Ternyata kaulah yang paling mengertiku* kunyanyikan sebuah lagu sambil diiringi petikkan dawai gitar yang merdu hanya untuk kamu, Nisya Kiyara. Semoga kamu mendengarnya di kejauhan sana =)

Pelangi dari Tuhan

         Deringan telepon genggamku membangunkan tidurku yang lelap. “siaaal, dasar anak baweeel” gerutuku dalam hati saat mengetahui bahwa itu sekedar misscall dari Icha. Tanpa memperdulikan kelakuan isengnya yang sudah sangat sering seperti itu, akupun melanjutkan tidurku di hari libur yang tenang ini.
     “Dikaaa, bangun dooong. Ini aku, Vera” suara lembut itu kali ini membuat aku sangat bersemangat untuk membuka mata.
        “Ichaaaaaaaaa! Ngapain sih lo ada disini? Trus, mana Vera? Lo dateng sama dia kan?” bukannya menjawab semua pertanyaanku, anak ingusan ini malah ketawa cekikikan. Eiiits, jangan bilang kalo yang ngebangunin gue tadi itu lo mak lampir?!”
         “he-em” angguknya pelan namun mengiyakan.


 
         “haaas, ga asik lo Cha. Tau gini gue ga bakalan bangun. Tadi itu mimpi gue yang paling indah tauuuk, mana ada Vera lagi di dalem mimpi gue.” Jawabku kecewa karena bukan Vera yang aku liat, melainkan Nisya Kiyara sahabat gila yang aku punya selama 6tahun silam. Lebih tepatnya sejak kelas 1smp sampai sekarang. Entah nasib apa yang bikin aku bertemu sama cewek gila yang suka banget sama coklat. Tapi dengan adanya dia, hidupku jadi lebih berwarna. Dia cewe yang simple, ga butuh banyak kosmetik saat pergi keluar rumah. Dia bukan seorang cewe tomboy seperti kebanyakan cewe lainnya yang alergi sama kosmetik, tapi dia juga bukan cewe feminim yang ga bisa hidup tanpa kosmetik. Dia cewe yang asik, baik, ceria, bisa diajak berbagi dalam keadaan apapun, sederhana namun menyimpan sejuta harta yang bakal buat temen-temennya bahagia kalo lagi ada di deket dia.
         Udah banyak kenangan yang aku ciptain bareng cewe bertubuh tidak terlalu tinggi itu. Terik matahari, dinginnya kala penghujan datang, sejuknya udara yang menemani hari-hariku bersamanyapun sudah akrab akan hadirnya Icha. Entah apa yang membuat aku dan Icha terus bersahabat sampai sekarang. Kita tidak selalu berdua, hadirnya cewe baruku tidak mengusik keakraban antara aku dan Icha. Sejak berteman dengannya sudah berkali-kali aku berganti pasangan. Namun tidak dengan Icha. Dia tetap saja menjomblo, bahkan sampai sekarang. Mungkin karena Icha ga pernah cerita atau memang dia ga pernah ngerasain jatuh cinta sama lawan jenisnya. Tapi setauku Icha anak yang sangat terbuka. Dia mau bercerita apapun tentang kehidupannya, bahkan dia ga pernah  malu menceritakan pengalamannya yang sangat pribadi. Hahaha ya itulah Icha, cewe yang super cerewet, cengeng, keras kepala namun setia kawan. Aku ga tau apa yang terjadi kalo suatu saat Tuhan menjauhkan kami.
         “jalan yuk Dik, bosen tauk liburan gini Cuma di rumah aja” rengek Icha yang pagi-pagi banget udah nongol di rumahku.
         “mau jalan kemana Nisya Kiyara???” tanyaku sebal. Bayangin aja tidur lelap dan mimpi indahku begitu saja dia hancurkan tanpa ada hak apapun.
         “temenin liat pelangi” pintanya sambil sedikit cemberut.
         “aduh Ichaaa, pagi-pagi gini mana ada pelangi? Tujuh bidadari cantiknya kan pada belom bangun. Lagian, satu bidadarinya lagi ada di hadapan gue sekarang” sambil mengusap kepala Icha dan berharap dia mau mengurungkan niatnya yang konyol di pagi yang tenang ini.
         “ah dasar lo Dik. Jangan belajar ngerayu Vera di depan gue deh. Ayo Diiik, pliiis mau ya”
         “Mas Dika jahat deh, masa mbak Icha udah cantik begitu mas ga mau nemenin mbak Icha. Kasian lho mas. Lagian udah dari tadi pagi mbak Icha disini. Sambil nungguin mas bangun tidur, mbak Icha udah bantuin si mbok sama mamanya mas masak buat sarapannya mas Dika. Nih ini dia masakan yang mbak Icha bikin buat mas Dika.” Cerocos mbok Inah sambil menyodorkan sepiring nasi goreng buatan Icha dan segelas air susu hangat yang sayang banget kalo ga aku abisin. Apalagi aku tau banget kalo masakan Icha enak, ya meskipun cuma sekedar nasi goreng.
         “aduuuh si mbok ini, saya jadi ga bisa nolak ajakan cewe gila ini deh mbok”
         “jadi...lo mau nemenin gue liat pelangi Dik?” tanyanya riang. Ini yang aku suka dari Icha, dia gapernah murung ataupun keliatan sedih. Wajah riangnya selalu ngisi hari-hariku.
         “iya Nisyaaaaaaaaaa” jawabku lembut sambil memegang kepala Icha dan menatap matanya. Dia terlihat sangat manis tak seperti biasanya.
         Hari itupun aku dan Icha menghabiskan hari hanya berdua. Dari pagi sampai malam kita terus mencari dimana pelangi. Namun tak ada sedikitpun sinar pelangi yang aku dan Icha lihat. Walau dia sempat kecewa, namun hal itu dengan segera hilang ketika sinaran kunang-kunang menemani kita menghabiskan malam yang dingin berdua. “indah ya Cha, kamu suka?” tanyaku kepada gadis yang kehadirannya sangat berharga untukku ini.
         “Iya Dik, indah banget. Tapi bukan ini yang mau gue kasih ke lo” Icha menatapku kecewa.
         “emangnya lo mau ngasih gue apaan Cha?” aku sedikit bingung dengan ucapan Icha malam itu.
         “gue pengen ngasih pelangi buat lo hari ini Dik. Biar bisa warnain hari-hari lo kedepannya” tidak lama kemudian air matanya menetes pelan di pipi lembutnya.
         “hey, gue ga lagi ulang tahun Cha. Buat apa lo ngasih gue pelangi? Bukanya lo yang pengen banget liat pelangi? Lagian tanpa pelangi hidup gue udah berwarna bareng lo Cha” ku usap perlahan air mata yang mengalir di pipi sahabat yang amat aku sayangi. “udah dong Cha, jangan nangis. Kalo hari ini ga ada pelangi, mungkin beso atau lusa dia bakalan dateng ko. Mungkin aja Tuhan pengen ngeliatin ke lo ciptaanya yang juga indah. Tuh liat, kunang-kunangnya lagi nungguin senyum manis dari bibir lo” usahaku menenangkan Icha pun berhasil. Senyum manis kemballi mekar di wajah Icha.
         Setelah beberapa lama mengahbiskan malam bersama kunang-kunang, aku dan Icha bergegas pulang. Malam sudah larut, Icha pun sudah nampak sangat mengantuk dan lelah.
         Liburan akhir tahun masih sangat lama. Setelah menyelesaikan ujian sekolah dan ujian nasional aku, Icha dan teman-teman seangkatanku mendapatkan libur panjang. Tidak seperti liburan yang telah lalu, biasanya Icha sudah mempersiapkan jadwal untuk kita menghabiskan hari libur. Semenjak hari itu Icha ga sedikitpun nongolin batang hidungnya di hadapanku. Mungkin karena dia sibuk atau ada urusan penting yang menyita banyak waktunya. Pesan singkat dan teleponku beberapa hari ini ga ada yang diangkat ataupun dibales. Mungkin aja Icha lagi sibuk nyelesaiin beberapa lukisannya. Lagi pula karena supir mama lagi cuti selama sebulan, jadi setiap harinya aku harus nganter jemput  mama ke kantornya yang lumayan jauh dan ga searah sama rumah Icha, jadi belum sempat aku nyamperin Icha di rumahnya.
         Tiga minggu berlalu sejak aku dan Icha menghabiskan seharian bersama, aku dan Icha belum sempat bertemu lagi. Bahkan sekedar bertukar kabarpun tidak. Hari ini mama berangkat ke Singapura, jadi selama beberapa hari kedepan aku ga harus lagi anter jemput mama. So, akhirnya aku ada waktu untuk sekedar menghamppiri Icha di rumahnya.
         “cha, gue ke rumah lo sekarang” segera ku kirim pesan singkat ke ponsel Icha. Namun sial, smsku pending. Nomer Icha ga aktiv.
         Akupun memutuskan untuk menunda kehadiranku di rumah Icha siang ini. Mungkin agak malaman aja aku pergi kerumah cewe bawel itu.
Jam pun terasa cepat. Sudah di pukul tujuh jarum jam bergerak. Aku bergegas bersiap-siap untuk pergi ke rumah Icha. Namun “kriiiiing...kriingkriiing” suara telpon rumahku menghentikan langkahku yang terburu-buru menuju garasi rumah. Ternyata mbok Inah sudah mengangkatnya terlebih dulu. Akupun segera kembali ke garasi untuk mengambil motor.
“mas Dikaaa, maaaas ada telpon dari mamanya mbak Icha” teriak mbok Inah dari depan rumah yang dengan seketika menghentikanku yang tengah mengendarai motor. Untungnya saja aku masih di depan pintu gerbang.
“dari Tante Ruri mbok?” tanyaku heran. “Kenapa harus tante Ruri yang menelponku, kenapa bukan Icha?” pikirku dalam hati sambil menuju meja telpon di ruang tamu.
“katanya sih ada yang penting mas”
“malem tante, ini Dika. Ada apa ya te?”
“Dika, Ichaaa...” suara tante Ruri terputus-putus.
“iya, Icha kenapa tante? Dia pergi dari rumah lagi?” tanyaku akan kebiasaan Icha yang pergi dari rumah saat dia merasa tidak nyaman. Tapi, kali ini dia tidak memberi tahuku dimana keberadaanya. Biasanya Icha selalu menghubungiku saat dia pergi dari rumah.
“buakan sayang. Icha butuh kamu. Hanya kamu harapan tante satu-satunya Dik”
“tante bicara apa? Dika ga paham te” aku mulai panik dengan apa yang Tante Ruri sampaikan.
“RS. Cinta Kasih, kamar pelangi V no.19. kamu cep....tuuututuuuut” suara di sebrang sanapun terputus.
Tanpa pikir panjang akupun menghampiri RS. Cinta Kasih yang tante Ruri katakan tadi. Perasaanku ga enak. Sangat ga enak. “ada apa dengan Icha?” aku terus bertanya dalam hati. Keringat dinginpun menetes deras di tubuhku. Tangan dan kakiku gemetar. Secepat mungkin aku menyetir motor merah yang biasanya aku dan Icha tumpangi. Otakku sudah tak bisa berpikir jernih. Semuanya kacau. Yang ada di pikiranku hanyalah Nisya Kiyara sahabatku, orang yang sangat aku sayang dan sangat aku harapkan ke hadiranya.
“dimana Icha tante?”
“di dalam sana Dik. Tolong tante, hanya kamu harapan terakhir tante”
“tante, Dika masuk ke dalam ya” aku meminta izin untuk memasuki ruangan serba putih yang terlihat hening itu diurungkan oleh tante Ruri.
“Icha baru selesai di periksa keadaanya, jadi belum ada seorangpun yang boleh mendekatinya. Mungkin sekitar sejam-an lagi Dik.” Jelas Ibu yang matanya membengkak karena keadaan putri kesayangnya yang kini mencemaskan banyak orang, terutama aku.
“sejak kapan Icha disini te? Icha sakit apa?”
“sejak sehari setelah Icha pergi ke rumahmu Dik. Sebenarnya sudah lama Icha mengidap sakit leukimia. Sekitar 3tahun yang lalu. Namun Icha memohon sama tante untuk tidak memberitahukan siapaun termasuk kamu. Mungkin tante bodoh mau memenuhi permohonanya, tapi tante ga tega liat dia sedih kalo kamu tau penyakit yang menyerangnya.” Sambil menangis beliau terus menceritakan yang sebenarnya.
“Ichaaa, begok banget sih lo. Tau gini gue bakal jagain lo tiap detik Cha, ga bakal ninggalin lo sedetikpun, bahkan semua keinginan bodoh lo bakal gue wujudtin” ocehku yang semakin menyalahkan diriku sendiri. “gue emang begok. Kenapa ga dari kemaren-kemaren aja gue nyamperin lo Cha. Maafin gue Cha” aku tertunduk lesu.
“Dika, sebelum Icha koma dia sempat bercerita sedikit dengan tante. Dia menceritakan betapa senangnya dia menghabiskan hari denganmu saat itu. Walaupun dia sempat kecewa karena tidak ada pelangi yang ingin dia kasih buat kamu. Dia sangat ingin memberimu pelangi, karena dia takut dia ga bisa lagi memberi warna di hidupmu setelah di benar-benar pergi dari kehidupanmu selamanya. Itulah yang membuat dia terus merengek sama Dika untuk menemaninya melihat pelangi. Sebenarnya Icha sangat menyayangimu lebih dari sahabat Dik. Terkadang dia cemburu saat mengetahui kamu punya pacar baru. Namun dia berusaha untuk tetap menyembunyikan semua perasaanya. Dia tahu bahwa kamu ga pernah sedikitpun tertarik sama Icha, makanya dia memilih untuk terus bersahabat denganmu. Banyak kenangan yang dia ceritakan sama tante sehari sebelum dia koma dan terpejam sampai sekarang. Yaaah, itulah Icha. Dia mau menyembunyikan apa yang dia rasakan demi menjaga persahabatan kalian.” Penjelasan tante Ruri pun terputus oleh tangisanya yang semakin deras. Aku pun terdiam tak percaya. Icha ternyata menyimpan perasaan yang sama denganku. Sebenarnya aku menyukai Icha sejak setahun setelah berkenalan denganya. Namun aku takut melukai hatinya dan persahabatan kitapun terputus. Aku memilih untuk diam dan mencoba mencari cewe lain yang bisa mewakili Icha di dalam hatiku. Namun tak ada satupun yang bisa, sekalipun Vera cewe cantik yang menyandang ketua osis di sekolahku.
“Bagi gue ga ada yang lebih cantik selain elo Cha. Dalam keadaan seperti inipun lo masih tetap kelihatan cantik. Ayo bangun Cha, kita abisin waktu bareng-bareng lagi. Liburan masih tersisa beberapa minggu lagi. Lo ga pengen ajakin gue pergi ke pantai? Atau makan eskrim di tempat biasanya? Cha, bentar lagi kita jadi mahasiswa. Bangun dong Cha, kita daftar kuliah bareng. Hidup gue hambar tanpa lo Cha. Apa lo ga pengen gangguin tidur lelap dan mimpi-mimpi indah gue lagi? Apa lo udah bosen masakin gue nasi goreng buatan lo? Ichaaa, plis dengerin gue dan bangun dari tidur panjang lo! Lo harus temenin hari-hari gue lagi Cha. Katanya lo pengen ngasih gue pelangi? Ayo kita cari pelangi, tapi setelah pelangi itu ada gue pengen lo yang gantiin pelangi itu. Karena sejatinya lo itu pelangi dalam idup gue Cha. Gue sayang lo! Sayang banget, sama kayak lo sayang sama gue lebih dari sahabat.” Sambil terus menggenggam tangan Icha, tak hentinya aku memintanya untuk segera bangun dari tidur lelapnya. Entah kekuatan dari mana Icha pun membuka ke dua bola matanya yang indah namun sedikit berbeda dari biasanya, sedikit nampak sayu. “Cha, ini gue Dika” ucaklu perlahan sambil mengelus tangan Icha. Akhirnya Icha terbangun dari tidurnya selama ini.
“Dik, ngapain lo disini? Pasti mama yang nelpon lo ya?”
“gue disini buat bangunin tidur lelap lo, abisnya lo lama banget tidurnya. Iya, mama lo panik dan akhirnya nelpon gue buat kesini. Lo tuh ya, jahat banget ga ngabarin gue kalo lo lagi disini.”
“gue mana sempet pegang hp begok” jawabnya ketus namun sangat membuatku sedikit lega melihat Icha sudah bisa kembali berbicara.
“iya-iya, udah nona manis istirahat dulu ya. Jangan terlalu banyak ngomel, ntar dimarahin dokternya lhooo”
Selama beberapa jam aku dan Icha berbasa-basi seperti biasanya walaupun sekarang keadaan Icha sedikit berbeda. Setidaknya Icha sudah bisa tersenyum.
Genap sebulan Icha di rawat akhirnya dia di bolehkan pulang ke rumah oleh dokter, namun harus kembali kontrol dua minggu sekali. Selama liburan aku terus menjaga Icha. Menurut pandanganku keadaan Icha semakin mebaik. Dia sudah bisa beraktifitas sendiri tanpa harus selalu ku bantu. “Tuhan, jangan jadikan ini sekedar mimpi indahku di siang bolong. Aku ingin kembali mengahbiskan waktu bersamanya. Bersama gadis yang sangat aku sayangi. Amin.” Inilah doa yang aku panjatkan setiap aku selesai beribadah dan saat aku menata ke dua bola mata Icha.
Seminggu setelah kembalinya Icha di rumahnya, aku menyatakan persaanku kepadanya. Icha sempat menolak, namun berkat bantuan dari tante Ruri, aku dan Icha pun resmi berpacaran.
“sayang, udah yuk mainya. Udah gerimis dan kakyaknya mau ujan.” Ajakku kepada pacar baruku yang sedang melukis di halaman rumahnya.
“sebentar, kurang beberapa goresan kuas lukisanku selesai”
Tak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat lebat. Aku dan Icha melihatnya dari dalam rumah. Kami menghabiskan waktu di dalam rumah dengan bercerita dan berbagai aktivitas lainnya. Sesekali aku menggenggam tangan Icha, terasa sangat dingin seperti saat Icha tergeletak di dalam rumah sakit lalu. Setelah film yang kami putar selesai, hujan pun reda seolah ikut berhenti saat film * Pelangi dari Tuhan * yang merupakan film favorit Icha selesai.
“Dik, lihat itu” sambil menunjuk ke atas, ke arah langit lebih tepatnya.
“iya, ada apa sayang? Langit sangat cerah, kamu mau melukis lagi di luar?” tanyaku yang saat itu sedang menopang badan Icha yang semakin melemah. “kamu kenapa sayang? Badan kamu lemes banget. Kamu ga kenapa-kenapa kan Cha?” aku mulai panik.
“sayang, itu ada pelangi. Akhirnya Tuhan memberikan pelangi buat kamu untuk menggantikanku” tatap Icha yang membuat mataku berkaca-kaca.
“Icha, kamu ga akan pergi kan. Aku ga butuh pelangi itu. Aku Cuma butuh kamu, bagiku kamu lebih indah dari pelangi di atas sana. Sayang, ayo kita ke rumah sakit.” Aku semakin cemas melihat keadaan kekasih yang amat aku sayangi. “oh Tuhan, tolong panjangkan umur Icha” doaku dalam hati.
“AKU SAYANG KAMU, ANDIKA KIFANO” Icha pun memejamkan kedua bola matanya.
Kali ini Nisya Kiyara memejamkan matanya untuk selamanya. Dia benar-benar pergi dari hidupku. Dia benar-benar meninggalkanku dan orang-orang yang menyayanginya. Icha terlalu indah untuk dilupakan. Tuhan terlalu cepat memintanya untuk kembali. Mungkin Tuhan lebih memerlukannya daripada aku. Icha, kehadiranmu terlalu indah dan terlalu singkat dalam kehidupanku. Terima kasih untuk semua yang kamu kasih buat aku sayang. Kamu memang gadis yang sempurna, kekasih dan sahabat yang setia. Dirimu tak akan terganti.
Hari-hariku sepi tanpa Icha. Hanya lukisan yang bergambarkan seorang gadis membawa pelangi inilah teman setiaku saat ini. Saat aku merindukanmu, lukisan inilah pelipur laraku. Kini, aku harus melaluinya sendiri. Menghabiskan waktuku tanpa senyuman manisnya, tak ada lagi tangis cengengnya dan tak ada lagi celotehan bawel dari bibir Icha.
“Cha, hari ini aku ospek di universitas impian kita. Lihat dan temani aku dari sana ya sayang.”

                                                                             23jan12  -monyet-

0 komentar:

Selasa, 24 Januari 2012

Pelangi dari Tuhan =)



*sesali tak sejak dulu ku miliki dirimu. Ternyata kaulah yang paling mengertiku* kunyanyikan sebuah lagu sambil diiringi petikkan dawai gitar yang merdu hanya untuk kamu, Nisya Kiyara. Semoga kamu mendengarnya di kejauhan sana =)

Pelangi dari Tuhan

         Deringan telepon genggamku membangunkan tidurku yang lelap. “siaaal, dasar anak baweeel” gerutuku dalam hati saat mengetahui bahwa itu sekedar misscall dari Icha. Tanpa memperdulikan kelakuan isengnya yang sudah sangat sering seperti itu, akupun melanjutkan tidurku di hari libur yang tenang ini.
     “Dikaaa, bangun dooong. Ini aku, Vera” suara lembut itu kali ini membuat aku sangat bersemangat untuk membuka mata.
        “Ichaaaaaaaaa! Ngapain sih lo ada disini? Trus, mana Vera? Lo dateng sama dia kan?” bukannya menjawab semua pertanyaanku, anak ingusan ini malah ketawa cekikikan. Eiiits, jangan bilang kalo yang ngebangunin gue tadi itu lo mak lampir?!”
         “he-em” angguknya pelan namun mengiyakan.


 
         “haaas, ga asik lo Cha. Tau gini gue ga bakalan bangun. Tadi itu mimpi gue yang paling indah tauuuk, mana ada Vera lagi di dalem mimpi gue.” Jawabku kecewa karena bukan Vera yang aku liat, melainkan Nisya Kiyara sahabat gila yang aku punya selama 6tahun silam. Lebih tepatnya sejak kelas 1smp sampai sekarang. Entah nasib apa yang bikin aku bertemu sama cewek gila yang suka banget sama coklat. Tapi dengan adanya dia, hidupku jadi lebih berwarna. Dia cewe yang simple, ga butuh banyak kosmetik saat pergi keluar rumah. Dia bukan seorang cewe tomboy seperti kebanyakan cewe lainnya yang alergi sama kosmetik, tapi dia juga bukan cewe feminim yang ga bisa hidup tanpa kosmetik. Dia cewe yang asik, baik, ceria, bisa diajak berbagi dalam keadaan apapun, sederhana namun menyimpan sejuta harta yang bakal buat temen-temennya bahagia kalo lagi ada di deket dia.
         Udah banyak kenangan yang aku ciptain bareng cewe bertubuh tidak terlalu tinggi itu. Terik matahari, dinginnya kala penghujan datang, sejuknya udara yang menemani hari-hariku bersamanyapun sudah akrab akan hadirnya Icha. Entah apa yang membuat aku dan Icha terus bersahabat sampai sekarang. Kita tidak selalu berdua, hadirnya cewe baruku tidak mengusik keakraban antara aku dan Icha. Sejak berteman dengannya sudah berkali-kali aku berganti pasangan. Namun tidak dengan Icha. Dia tetap saja menjomblo, bahkan sampai sekarang. Mungkin karena Icha ga pernah cerita atau memang dia ga pernah ngerasain jatuh cinta sama lawan jenisnya. Tapi setauku Icha anak yang sangat terbuka. Dia mau bercerita apapun tentang kehidupannya, bahkan dia ga pernah  malu menceritakan pengalamannya yang sangat pribadi. Hahaha ya itulah Icha, cewe yang super cerewet, cengeng, keras kepala namun setia kawan. Aku ga tau apa yang terjadi kalo suatu saat Tuhan menjauhkan kami.
         “jalan yuk Dik, bosen tauk liburan gini Cuma di rumah aja” rengek Icha yang pagi-pagi banget udah nongol di rumahku.
         “mau jalan kemana Nisya Kiyara???” tanyaku sebal. Bayangin aja tidur lelap dan mimpi indahku begitu saja dia hancurkan tanpa ada hak apapun.
         “temenin liat pelangi” pintanya sambil sedikit cemberut.
         “aduh Ichaaa, pagi-pagi gini mana ada pelangi? Tujuh bidadari cantiknya kan pada belom bangun. Lagian, satu bidadarinya lagi ada di hadapan gue sekarang” sambil mengusap kepala Icha dan berharap dia mau mengurungkan niatnya yang konyol di pagi yang tenang ini.
         “ah dasar lo Dik. Jangan belajar ngerayu Vera di depan gue deh. Ayo Diiik, pliiis mau ya”
         “Mas Dika jahat deh, masa mbak Icha udah cantik begitu mas ga mau nemenin mbak Icha. Kasian lho mas. Lagian udah dari tadi pagi mbak Icha disini. Sambil nungguin mas bangun tidur, mbak Icha udah bantuin si mbok sama mamanya mas masak buat sarapannya mas Dika. Nih ini dia masakan yang mbak Icha bikin buat mas Dika.” Cerocos mbok Inah sambil menyodorkan sepiring nasi goreng buatan Icha dan segelas air susu hangat yang sayang banget kalo ga aku abisin. Apalagi aku tau banget kalo masakan Icha enak, ya meskipun cuma sekedar nasi goreng.
         “aduuuh si mbok ini, saya jadi ga bisa nolak ajakan cewe gila ini deh mbok”
         “jadi...lo mau nemenin gue liat pelangi Dik?” tanyanya riang. Ini yang aku suka dari Icha, dia gapernah murung ataupun keliatan sedih. Wajah riangnya selalu ngisi hari-hariku.
         “iya Nisyaaaaaaaaaa” jawabku lembut sambil memegang kepala Icha dan menatap matanya. Dia terlihat sangat manis tak seperti biasanya.
         Hari itupun aku dan Icha menghabiskan hari hanya berdua. Dari pagi sampai malam kita terus mencari dimana pelangi. Namun tak ada sedikitpun sinar pelangi yang aku dan Icha lihat. Walau dia sempat kecewa, namun hal itu dengan segera hilang ketika sinaran kunang-kunang menemani kita menghabiskan malam yang dingin berdua. “indah ya Cha, kamu suka?” tanyaku kepada gadis yang kehadirannya sangat berharga untukku ini.
         “Iya Dik, indah banget. Tapi bukan ini yang mau gue kasih ke lo” Icha menatapku kecewa.
         “emangnya lo mau ngasih gue apaan Cha?” aku sedikit bingung dengan ucapan Icha malam itu.
         “gue pengen ngasih pelangi buat lo hari ini Dik. Biar bisa warnain hari-hari lo kedepannya” tidak lama kemudian air matanya menetes pelan di pipi lembutnya.
         “hey, gue ga lagi ulang tahun Cha. Buat apa lo ngasih gue pelangi? Bukanya lo yang pengen banget liat pelangi? Lagian tanpa pelangi hidup gue udah berwarna bareng lo Cha” ku usap perlahan air mata yang mengalir di pipi sahabat yang amat aku sayangi. “udah dong Cha, jangan nangis. Kalo hari ini ga ada pelangi, mungkin beso atau lusa dia bakalan dateng ko. Mungkin aja Tuhan pengen ngeliatin ke lo ciptaanya yang juga indah. Tuh liat, kunang-kunangnya lagi nungguin senyum manis dari bibir lo” usahaku menenangkan Icha pun berhasil. Senyum manis kemballi mekar di wajah Icha.
         Setelah beberapa lama mengahbiskan malam bersama kunang-kunang, aku dan Icha bergegas pulang. Malam sudah larut, Icha pun sudah nampak sangat mengantuk dan lelah.
         Liburan akhir tahun masih sangat lama. Setelah menyelesaikan ujian sekolah dan ujian nasional aku, Icha dan teman-teman seangkatanku mendapatkan libur panjang. Tidak seperti liburan yang telah lalu, biasanya Icha sudah mempersiapkan jadwal untuk kita menghabiskan hari libur. Semenjak hari itu Icha ga sedikitpun nongolin batang hidungnya di hadapanku. Mungkin karena dia sibuk atau ada urusan penting yang menyita banyak waktunya. Pesan singkat dan teleponku beberapa hari ini ga ada yang diangkat ataupun dibales. Mungkin aja Icha lagi sibuk nyelesaiin beberapa lukisannya. Lagi pula karena supir mama lagi cuti selama sebulan, jadi setiap harinya aku harus nganter jemput  mama ke kantornya yang lumayan jauh dan ga searah sama rumah Icha, jadi belum sempat aku nyamperin Icha di rumahnya.
         Tiga minggu berlalu sejak aku dan Icha menghabiskan seharian bersama, aku dan Icha belum sempat bertemu lagi. Bahkan sekedar bertukar kabarpun tidak. Hari ini mama berangkat ke Singapura, jadi selama beberapa hari kedepan aku ga harus lagi anter jemput mama. So, akhirnya aku ada waktu untuk sekedar menghamppiri Icha di rumahnya.
         “cha, gue ke rumah lo sekarang” segera ku kirim pesan singkat ke ponsel Icha. Namun sial, smsku pending. Nomer Icha ga aktiv.
         Akupun memutuskan untuk menunda kehadiranku di rumah Icha siang ini. Mungkin agak malaman aja aku pergi kerumah cewe bawel itu.
Jam pun terasa cepat. Sudah di pukul tujuh jarum jam bergerak. Aku bergegas bersiap-siap untuk pergi ke rumah Icha. Namun “kriiiiing...kriingkriiing” suara telpon rumahku menghentikan langkahku yang terburu-buru menuju garasi rumah. Ternyata mbok Inah sudah mengangkatnya terlebih dulu. Akupun segera kembali ke garasi untuk mengambil motor.
“mas Dikaaa, maaaas ada telpon dari mamanya mbak Icha” teriak mbok Inah dari depan rumah yang dengan seketika menghentikanku yang tengah mengendarai motor. Untungnya saja aku masih di depan pintu gerbang.
“dari Tante Ruri mbok?” tanyaku heran. “Kenapa harus tante Ruri yang menelponku, kenapa bukan Icha?” pikirku dalam hati sambil menuju meja telpon di ruang tamu.
“katanya sih ada yang penting mas”
“malem tante, ini Dika. Ada apa ya te?”
“Dika, Ichaaa...” suara tante Ruri terputus-putus.
“iya, Icha kenapa tante? Dia pergi dari rumah lagi?” tanyaku akan kebiasaan Icha yang pergi dari rumah saat dia merasa tidak nyaman. Tapi, kali ini dia tidak memberi tahuku dimana keberadaanya. Biasanya Icha selalu menghubungiku saat dia pergi dari rumah.
“buakan sayang. Icha butuh kamu. Hanya kamu harapan tante satu-satunya Dik”
“tante bicara apa? Dika ga paham te” aku mulai panik dengan apa yang Tante Ruri sampaikan.
“RS. Cinta Kasih, kamar pelangi V no.19. kamu cep....tuuututuuuut” suara di sebrang sanapun terputus.
Tanpa pikir panjang akupun menghampiri RS. Cinta Kasih yang tante Ruri katakan tadi. Perasaanku ga enak. Sangat ga enak. “ada apa dengan Icha?” aku terus bertanya dalam hati. Keringat dinginpun menetes deras di tubuhku. Tangan dan kakiku gemetar. Secepat mungkin aku menyetir motor merah yang biasanya aku dan Icha tumpangi. Otakku sudah tak bisa berpikir jernih. Semuanya kacau. Yang ada di pikiranku hanyalah Nisya Kiyara sahabatku, orang yang sangat aku sayang dan sangat aku harapkan ke hadiranya.
“dimana Icha tante?”
“di dalam sana Dik. Tolong tante, hanya kamu harapan terakhir tante”
“tante, Dika masuk ke dalam ya” aku meminta izin untuk memasuki ruangan serba putih yang terlihat hening itu diurungkan oleh tante Ruri.
“Icha baru selesai di periksa keadaanya, jadi belum ada seorangpun yang boleh mendekatinya. Mungkin sekitar sejam-an lagi Dik.” Jelas Ibu yang matanya membengkak karena keadaan putri kesayangnya yang kini mencemaskan banyak orang, terutama aku.
“sejak kapan Icha disini te? Icha sakit apa?”
“sejak sehari setelah Icha pergi ke rumahmu Dik. Sebenarnya sudah lama Icha mengidap sakit leukimia. Sekitar 3tahun yang lalu. Namun Icha memohon sama tante untuk tidak memberitahukan siapaun termasuk kamu. Mungkin tante bodoh mau memenuhi permohonanya, tapi tante ga tega liat dia sedih kalo kamu tau penyakit yang menyerangnya.” Sambil menangis beliau terus menceritakan yang sebenarnya.
“Ichaaa, begok banget sih lo. Tau gini gue bakal jagain lo tiap detik Cha, ga bakal ninggalin lo sedetikpun, bahkan semua keinginan bodoh lo bakal gue wujudtin” ocehku yang semakin menyalahkan diriku sendiri. “gue emang begok. Kenapa ga dari kemaren-kemaren aja gue nyamperin lo Cha. Maafin gue Cha” aku tertunduk lesu.
“Dika, sebelum Icha koma dia sempat bercerita sedikit dengan tante. Dia menceritakan betapa senangnya dia menghabiskan hari denganmu saat itu. Walaupun dia sempat kecewa karena tidak ada pelangi yang ingin dia kasih buat kamu. Dia sangat ingin memberimu pelangi, karena dia takut dia ga bisa lagi memberi warna di hidupmu setelah di benar-benar pergi dari kehidupanmu selamanya. Itulah yang membuat dia terus merengek sama Dika untuk menemaninya melihat pelangi. Sebenarnya Icha sangat menyayangimu lebih dari sahabat Dik. Terkadang dia cemburu saat mengetahui kamu punya pacar baru. Namun dia berusaha untuk tetap menyembunyikan semua perasaanya. Dia tahu bahwa kamu ga pernah sedikitpun tertarik sama Icha, makanya dia memilih untuk terus bersahabat denganmu. Banyak kenangan yang dia ceritakan sama tante sehari sebelum dia koma dan terpejam sampai sekarang. Yaaah, itulah Icha. Dia mau menyembunyikan apa yang dia rasakan demi menjaga persahabatan kalian.” Penjelasan tante Ruri pun terputus oleh tangisanya yang semakin deras. Aku pun terdiam tak percaya. Icha ternyata menyimpan perasaan yang sama denganku. Sebenarnya aku menyukai Icha sejak setahun setelah berkenalan denganya. Namun aku takut melukai hatinya dan persahabatan kitapun terputus. Aku memilih untuk diam dan mencoba mencari cewe lain yang bisa mewakili Icha di dalam hatiku. Namun tak ada satupun yang bisa, sekalipun Vera cewe cantik yang menyandang ketua osis di sekolahku.
“Bagi gue ga ada yang lebih cantik selain elo Cha. Dalam keadaan seperti inipun lo masih tetap kelihatan cantik. Ayo bangun Cha, kita abisin waktu bareng-bareng lagi. Liburan masih tersisa beberapa minggu lagi. Lo ga pengen ajakin gue pergi ke pantai? Atau makan eskrim di tempat biasanya? Cha, bentar lagi kita jadi mahasiswa. Bangun dong Cha, kita daftar kuliah bareng. Hidup gue hambar tanpa lo Cha. Apa lo ga pengen gangguin tidur lelap dan mimpi-mimpi indah gue lagi? Apa lo udah bosen masakin gue nasi goreng buatan lo? Ichaaa, plis dengerin gue dan bangun dari tidur panjang lo! Lo harus temenin hari-hari gue lagi Cha. Katanya lo pengen ngasih gue pelangi? Ayo kita cari pelangi, tapi setelah pelangi itu ada gue pengen lo yang gantiin pelangi itu. Karena sejatinya lo itu pelangi dalam idup gue Cha. Gue sayang lo! Sayang banget, sama kayak lo sayang sama gue lebih dari sahabat.” Sambil terus menggenggam tangan Icha, tak hentinya aku memintanya untuk segera bangun dari tidur lelapnya. Entah kekuatan dari mana Icha pun membuka ke dua bola matanya yang indah namun sedikit berbeda dari biasanya, sedikit nampak sayu. “Cha, ini gue Dika” ucaklu perlahan sambil mengelus tangan Icha. Akhirnya Icha terbangun dari tidurnya selama ini.
“Dik, ngapain lo disini? Pasti mama yang nelpon lo ya?”
“gue disini buat bangunin tidur lelap lo, abisnya lo lama banget tidurnya. Iya, mama lo panik dan akhirnya nelpon gue buat kesini. Lo tuh ya, jahat banget ga ngabarin gue kalo lo lagi disini.”
“gue mana sempet pegang hp begok” jawabnya ketus namun sangat membuatku sedikit lega melihat Icha sudah bisa kembali berbicara.
“iya-iya, udah nona manis istirahat dulu ya. Jangan terlalu banyak ngomel, ntar dimarahin dokternya lhooo”
Selama beberapa jam aku dan Icha berbasa-basi seperti biasanya walaupun sekarang keadaan Icha sedikit berbeda. Setidaknya Icha sudah bisa tersenyum.
Genap sebulan Icha di rawat akhirnya dia di bolehkan pulang ke rumah oleh dokter, namun harus kembali kontrol dua minggu sekali. Selama liburan aku terus menjaga Icha. Menurut pandanganku keadaan Icha semakin mebaik. Dia sudah bisa beraktifitas sendiri tanpa harus selalu ku bantu. “Tuhan, jangan jadikan ini sekedar mimpi indahku di siang bolong. Aku ingin kembali mengahbiskan waktu bersamanya. Bersama gadis yang sangat aku sayangi. Amin.” Inilah doa yang aku panjatkan setiap aku selesai beribadah dan saat aku menata ke dua bola mata Icha.
Seminggu setelah kembalinya Icha di rumahnya, aku menyatakan persaanku kepadanya. Icha sempat menolak, namun berkat bantuan dari tante Ruri, aku dan Icha pun resmi berpacaran.
“sayang, udah yuk mainya. Udah gerimis dan kakyaknya mau ujan.” Ajakku kepada pacar baruku yang sedang melukis di halaman rumahnya.
“sebentar, kurang beberapa goresan kuas lukisanku selesai”
Tak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat lebat. Aku dan Icha melihatnya dari dalam rumah. Kami menghabiskan waktu di dalam rumah dengan bercerita dan berbagai aktivitas lainnya. Sesekali aku menggenggam tangan Icha, terasa sangat dingin seperti saat Icha tergeletak di dalam rumah sakit lalu. Setelah film yang kami putar selesai, hujan pun reda seolah ikut berhenti saat film * Pelangi dari Tuhan * yang merupakan film favorit Icha selesai.
“Dik, lihat itu” sambil menunjuk ke atas, ke arah langit lebih tepatnya.
“iya, ada apa sayang? Langit sangat cerah, kamu mau melukis lagi di luar?” tanyaku yang saat itu sedang menopang badan Icha yang semakin melemah. “kamu kenapa sayang? Badan kamu lemes banget. Kamu ga kenapa-kenapa kan Cha?” aku mulai panik.
“sayang, itu ada pelangi. Akhirnya Tuhan memberikan pelangi buat kamu untuk menggantikanku” tatap Icha yang membuat mataku berkaca-kaca.
“Icha, kamu ga akan pergi kan. Aku ga butuh pelangi itu. Aku Cuma butuh kamu, bagiku kamu lebih indah dari pelangi di atas sana. Sayang, ayo kita ke rumah sakit.” Aku semakin cemas melihat keadaan kekasih yang amat aku sayangi. “oh Tuhan, tolong panjangkan umur Icha” doaku dalam hati.
“AKU SAYANG KAMU, ANDIKA KIFANO” Icha pun memejamkan kedua bola matanya.
Kali ini Nisya Kiyara memejamkan matanya untuk selamanya. Dia benar-benar pergi dari hidupku. Dia benar-benar meninggalkanku dan orang-orang yang menyayanginya. Icha terlalu indah untuk dilupakan. Tuhan terlalu cepat memintanya untuk kembali. Mungkin Tuhan lebih memerlukannya daripada aku. Icha, kehadiranmu terlalu indah dan terlalu singkat dalam kehidupanku. Terima kasih untuk semua yang kamu kasih buat aku sayang. Kamu memang gadis yang sempurna, kekasih dan sahabat yang setia. Dirimu tak akan terganti.
Hari-hariku sepi tanpa Icha. Hanya lukisan yang bergambarkan seorang gadis membawa pelangi inilah teman setiaku saat ini. Saat aku merindukanmu, lukisan inilah pelipur laraku. Kini, aku harus melaluinya sendiri. Menghabiskan waktuku tanpa senyuman manisnya, tak ada lagi tangis cengengnya dan tak ada lagi celotehan bawel dari bibir Icha.
“Cha, hari ini aku ospek di universitas impian kita. Lihat dan temani aku dari sana ya sayang.”

                                                                             23jan12  -monyet-

0 komentar on "Pelangi dari Tuhan =)"

Posting Komentar