Pagi ini sangat cerah, awan putih menghiasi dinding-dinding langit. Untuk hari ini anginpun tidak terlalu berambisi untuk berhembus, cukup berlarian dengan santai sehingga memberikan sepoian tiap hembusan nafasnya. Mataharipun belum nampak terlalu menyengat, namun cukup memberi kehangatan untuk tubuh setiap individu. Mendung dan gelapnya hari kemarin seakan terhapus oleh indahnya pagi ini. "heeem, very beautiful on sunday morning" sambil membuka jendela dan menghirup udah segar yang tidak dapat dirasakan oleh kakakku yang cantik.
Dinda Cantika Cahyani sampai sekarang masih terlelap dalam balutan kabel-kabel dan selang penyambung hidupnya. Wajahnya masih sangat pucat. Sangat nampak bahwa dia masih terlalu letih. Beberapa menit kemudian mata sayunya pun terbuka.
"selamat pagi sayang" sapaan lembut kakak iparku kepada istrinya yang masih letih karena kejadian malam itu.
"kak, jangan maksain diri dulu!" dengan seketika aku menghampirinya saat dia memaksakan untuk menegakkan tubuhnya. Nampak kerutan kesedihan di wajahnya. Aku bisa melihat kesedihan yang mendalam di benak Kak Dinda. Sakit yang dia rasakan menjadi sakit yang kini aku, Mas Dewa, Mama, dan Papa juga rasakan.
Kejadian malam itu memang sangat menyakitkan, terutama untuk pribadi lembut Kak Dinda. Bagaimana tidak, janin di dalam kandungannya yang telah memasuki bulan terakhir untuk segera di lahirkan ternyata harus kembali pulang ke pangkuan Sang Maha. Kurang duapuluhsatu hari lagi Kak Dinda dan Mas Dewa resmi menjadi orang tua dari calon bayi mereka. Tapi Tuhan berkata lain. Janin yang sudah ditunggu-tunggu itu lebih nyaman berada di alam sana, bersama Tuhan, malaikat dan juga para bidadari yang kini menjaganya. Semua berawal dari kecurigaan yang dirasakan oleh si calon Ibu ini, siang itu perutnya terasa tenang dan hening. Tendangan dan pukulan pelan yang menggelitik perut buncitnya tidak terasa. Ini tentu tidak biasa untuk Kak Dinda. Aneh dan sangat ganjil. Sembari menunggu sang suami pulang kerja, wanita yang bertubuh semampai dan berambut hitam lurus sebahu ini menyimpan rasa curiganya. Siang itu sepulangku dari sekolah, Kak Dinda masih menyanyikan lantunan lagu sambil mengelus perutnya yang berbalut daster bermotif batik yang iya kenakan. Dengan rasa tak sabar menunggu kedatangannya di dunia, akupun mencium perut Kak Dinda yang hangat. "Nis..." terdengar sangat lembut panggilan itu. "iya Kak, apa?" jawabku yang saat itu langsung menatap wajah Kak Dinda. Tak seperti biasanya, kala itu wajahnya memang nampak sedikit berbeda. "emmm, ga pa-pa. Cepet ganti baju, Nis" perintahnya. Namun aku bisa merasakan adanya kejanggalan di raut Kak Dinda.
Siangpun berganti sore. Hari itu nampak sangat gelap. Untungnya Mas Dewa lebih dulu sampai di rumah sebelum hujan turun. Saat semuanya berkumpul di ruang tengah, Kak Dinda mengangkat pembicaraan yang dengan seketika membuat aku dan yang lain khawatir. "Ma, Pa, seharian ini ko perut Dinda ga ada kontraksi ya? Dinda takut ada apa-apa sama bayi Dinda" serunya sambil menatap nanar. "maksud kamu apa Din?" tanya Papa yang menghentikan permainan caturnya bersama Mas Dewa. "seharian ini bayi di dalam perut Dinda ga gerak, Pa." sembari menjawab airr mata Kak Dinda pun mulai tak terbendung dan menetes perlahan di pipinya. "Dewa, kamu yang menyetir! sekarang kita ke RS. Kasih Ibu untuk memeriksakan kandungan Dinda!" perintah Papa yang sudah sangat khawatir akan kondisi Kak Dinda dan calon bayinya.
"detak jantungnya melemah" jawab seorang dokter yang malam itu menangani Kak Dinda membuat aku, Mama, Papa dan Mas Dewa semakin panik. "sebaiknya kita banyak berdoa meminta pertolongan dari-Nya. Kita lihat keadaan Ibu dan bayinya satu jam lagi"
Dagdigdug detak jantungku berdetak tak seperti biasanya, tentunya begitu pula dengan yang lainnya. Semuanya tertunduk sedih di depan kamar Kak Dinda. Suasana rumah sakit itu sungguh terasa sunyi, bau obat-obatanpun sangat menyengat para pengunjung yang terus berdatangan. Mas Dewa nampak begitu khawatir, tapi dia sangat pintar menyimpan air matanya untuk tidak menangisi keadaan istri dan calon bayinya yang sangat miris di dalam sama. Di dalam kamar yang hanya di isi oleh Kak Dinda, dokter dan perawatnya yang terus berusaha memulihkan keadaan Kak Dinda.
jegleeek...suara pintu kamar yang Kak Dinda tempati terbuka, dokter Wisnu pun keluar dari ruangan putih bersih itu. "bayinya sudah tidak bernyawa, keadaan ibu melemah, jadi jasad bayi masih belum bisa di keluarkan demi menjaga keselamatan sang ibu" jelas dokter yang keluar dengan wajah kecewa. Serentak kamipun tertunduk lesu. Air mata harupun tidak segan untuk mengguyur pipi kami. Malam itu adalah malam yang teramat pahit bagi kedua pasangan yang baru saja menikah lebih dari setahun yang lalu.
Sejak kejadian itu kondisi Kak Dinda belum kembali stabil, meskipun dia sudah tau bahwa janinnya sudah tak bernyawa, Kak Dinda masih terus mengelus perut tempat calon bayinya berada. Sampai pagi ini pun air matanya perlahan masih terus membasahi pipinya. Kata dokter Wisnu, Kak Dinda harus bisa melahirkan jasad bayinya secara normal jika dia ingin segera mempunyai momongan lagi, namun jika Kak Dinda tidak melakukannya secara normal, maka harus menunggu selama dua tahun untuk kembali hamil. Untungnya Mas Dewa terus memberi asupan semangat dan nasehat kepada Kak Dinda, yang perlahan mengembalikan senyum manis dari bibirnya. Nadin Keysadewa...semoga kamu jadi penunjuk jalan bagi papa dan mamamu kelak di surga. Amin.
Kembali ku hampiri kakakku yang cantik itu dan segera merapikan tempat tidurnya, karena malam nanti Kak Dinda akan melakukan operasi pengeluaran Alm. Nadin Keysadewa untuk segera di kuburkan. Mas Dewa memutuskan agar Kak Dinda menjalani operasi melihat keadaan istrinya yang masih sangat lemah. Ya Tuhan, lancarkanlah proses operasi nanti malam. amin.
terinpirasi dari curhatan teman sekelasku, widyan :)


0 komentar:
Posting Komentar