Mata-mata Sekolah


Hembusan angin yang sejuk menyapaku setiap pagi. Membangunkanku dari lelapnya tidur semalam. Membuyarkan mimpi indah yang semalam sedang berkeliaran dilelapan pejamku. Menyegarkanku sesaat kabut masih menggelayutiku. Menggiringku untuk segera melangkahkan kaki untuk mengejar mimpi yang akan aku kejar lewat bangku-bangku diam itu. Segera bersolek selayaknya gadis berseragam putih abu-abu lainnya. Dan yang tak terlupakan “ Paaa, Maaa...uang sanguku mana? “. Segera berangkat dengan berbagai perasaan yang berbeda setiap harinya. Kadang bahagia, malas untuk berangkat, kadang kala tergesah-gesah karena tugas yang menumpuk dan belum terselesaikan, dan juga terkadang aku sangat tidak sabaran untuk segera tiba di satu gedung yang berpagar sederhana namun menyimpan sejuta kejutan di dalamnya dan juga berisikan orang-orang pandai yang dengan ikhlas membagikan ilmunya kepada muridnya. SEKOLAH. Ya, sekolah-lah tempat yang aku maksud. Tempat yang setiap harinya aku jadikan tempat untuk menghabiskan waktu.
Inilah Gedung dimana Aku, Dia dan Memulai Masa Depan.


Sekolah. Entah getaran apa yang aku rasakan saat aku memikirkan kata S-E-K-O-L-A-H. Tempat dimana aku dilatih berbagai cara untuk meraih cita-citaku. Tempat dimana aku mendapatkan banyak pengalaman mengenai berbagai hal. Tempat dimana aku memiliki lebih dari dua orang papa dan mama selain kedua orang tuaku. Tempat dimana aku bercerita tentang semua kesombongan yang aku punya. Tempat dimana aku merasakan kenyamanan saat aku benar-benar sendiri. Dan tempat dimana aku belajar mengarang kata-kata ini, serangkaian kalimat yang dulu menurutku teramat sulit. Mungkin jika aku menceritakan setiap detil dari S-E-K-O-L-A-H, lembaran kertas dan ribuan halaman tidak cukup untuk menampung tulisan jelekku ini. Jadi, singkat cerita aku akan sedikit menuliskan sekelumit hasil dari MATA-MATA SEKOLAH yang aku alami sendiri.

“... ya, sayalah wali kelas kalian semua. Selamat bekerja sama di kelas ini, XII-IPA 1”
“ horeeeeeeeeeeeee...horeee” seru 28 murid yang sudah resmi menyabet gelar sebagai kakak kelas tertinggi di sekolah.


Ya, itulah yang sampai sekarang aku ingat. Masih terasa seruan ramai di kelas yang baru saja aku tempati beberapa bulan yang lalu. Mendapatkan kelas yang nyaman, kawan-teman-kerabat yang sangat mengasyikan membuat aku dan mereka bersorak gembira. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa guru yang sangat kami idolakan menjadi wali kelas kami. Namun, dengan cepat pula bayangan masa itu hilang. Aku dia dan mereka kini sudah duduk di jenjang masa sekolah yang paling atas, yaitu kelas tiga SMA. Kenangan-kenangan manis akan hanya menjadi ingatan lampau. Kurang beberapa bulan lagi aku dan teman-temanku akan meninggalkan bangunan tua ini. Tentunya dengan meninggalkan semua kenangan yang telah kami buat disini. Kenangan indah saat pertama berkenalan dengan teman sekelas. Saat-saat dimana rasa malu masih menggelayuti wajah kami untuk saling mengenal dan semakin akrab. Tragedi disaat kami melakukan hal-hal bodoh. Pujian dari guru saat kami mendapatkan nilai tertinggi, bahkan omelan guru saat kami mulai membangkang. Ada pula kisah tak mengenakan, namun aku yakin kelak akan mejadi obat penghilang rindu dikala aku dan mereka terpisah. Dan yang tak terlupakan, kisah asmara yang pasti pernah menghinggapi dinding hati kami. Entah dengan teman sekelas atau dengan teman antar kelas, bahkan dengan adik kelaspun.

Aku gatau apa yang bakal aku rasain saat waktu itu datang. Waktu dimana aku dan mereka sudah tidak menghadap papan tulis yang sama. Dan akan mengalami masa yang berbeda setiap paginya. Tak akan ada lagi sorai nakal dari bibir sang putih abu-abu. Tak ada lagi hiruk pikuk karena tumpukan tugas. Tak ada lagi candaan yang membuat mataku terbelalak di depan kelas. Tak ada lagi teriakan kompak saat bel pulang sekolah berbunyi. Tak ada lagi...sudahlah, terlalu berat aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Yang besok, biarlah hadir dengan sendirinya di keesokan hari. Sekarang, yang ingin aku lakukan hanyalah kembali mengintip apa yang terjadi di dalam kelasku ini. Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengisinya dengan ribuan canda tawa yang tak akan hadir lagi jika aku hanya duduk termenung memikirkan ketakutanku akan kehilangan mereka. Aku ingin menghabiskan semua hari yang tersisa dengan sejuta senyuman manis.

0 komentar:

Senin, 23 Januari 2012

Mata-mata Sekolah



Hembusan angin yang sejuk menyapaku setiap pagi. Membangunkanku dari lelapnya tidur semalam. Membuyarkan mimpi indah yang semalam sedang berkeliaran dilelapan pejamku. Menyegarkanku sesaat kabut masih menggelayutiku. Menggiringku untuk segera melangkahkan kaki untuk mengejar mimpi yang akan aku kejar lewat bangku-bangku diam itu. Segera bersolek selayaknya gadis berseragam putih abu-abu lainnya. Dan yang tak terlupakan “ Paaa, Maaa...uang sanguku mana? “. Segera berangkat dengan berbagai perasaan yang berbeda setiap harinya. Kadang bahagia, malas untuk berangkat, kadang kala tergesah-gesah karena tugas yang menumpuk dan belum terselesaikan, dan juga terkadang aku sangat tidak sabaran untuk segera tiba di satu gedung yang berpagar sederhana namun menyimpan sejuta kejutan di dalamnya dan juga berisikan orang-orang pandai yang dengan ikhlas membagikan ilmunya kepada muridnya. SEKOLAH. Ya, sekolah-lah tempat yang aku maksud. Tempat yang setiap harinya aku jadikan tempat untuk menghabiskan waktu.
Inilah Gedung dimana Aku, Dia dan Memulai Masa Depan.


Sekolah. Entah getaran apa yang aku rasakan saat aku memikirkan kata S-E-K-O-L-A-H. Tempat dimana aku dilatih berbagai cara untuk meraih cita-citaku. Tempat dimana aku mendapatkan banyak pengalaman mengenai berbagai hal. Tempat dimana aku memiliki lebih dari dua orang papa dan mama selain kedua orang tuaku. Tempat dimana aku bercerita tentang semua kesombongan yang aku punya. Tempat dimana aku merasakan kenyamanan saat aku benar-benar sendiri. Dan tempat dimana aku belajar mengarang kata-kata ini, serangkaian kalimat yang dulu menurutku teramat sulit. Mungkin jika aku menceritakan setiap detil dari S-E-K-O-L-A-H, lembaran kertas dan ribuan halaman tidak cukup untuk menampung tulisan jelekku ini. Jadi, singkat cerita aku akan sedikit menuliskan sekelumit hasil dari MATA-MATA SEKOLAH yang aku alami sendiri.

“... ya, sayalah wali kelas kalian semua. Selamat bekerja sama di kelas ini, XII-IPA 1”
“ horeeeeeeeeeeeee...horeee” seru 28 murid yang sudah resmi menyabet gelar sebagai kakak kelas tertinggi di sekolah.


Ya, itulah yang sampai sekarang aku ingat. Masih terasa seruan ramai di kelas yang baru saja aku tempati beberapa bulan yang lalu. Mendapatkan kelas yang nyaman, kawan-teman-kerabat yang sangat mengasyikan membuat aku dan mereka bersorak gembira. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa guru yang sangat kami idolakan menjadi wali kelas kami. Namun, dengan cepat pula bayangan masa itu hilang. Aku dia dan mereka kini sudah duduk di jenjang masa sekolah yang paling atas, yaitu kelas tiga SMA. Kenangan-kenangan manis akan hanya menjadi ingatan lampau. Kurang beberapa bulan lagi aku dan teman-temanku akan meninggalkan bangunan tua ini. Tentunya dengan meninggalkan semua kenangan yang telah kami buat disini. Kenangan indah saat pertama berkenalan dengan teman sekelas. Saat-saat dimana rasa malu masih menggelayuti wajah kami untuk saling mengenal dan semakin akrab. Tragedi disaat kami melakukan hal-hal bodoh. Pujian dari guru saat kami mendapatkan nilai tertinggi, bahkan omelan guru saat kami mulai membangkang. Ada pula kisah tak mengenakan, namun aku yakin kelak akan mejadi obat penghilang rindu dikala aku dan mereka terpisah. Dan yang tak terlupakan, kisah asmara yang pasti pernah menghinggapi dinding hati kami. Entah dengan teman sekelas atau dengan teman antar kelas, bahkan dengan adik kelaspun.

Aku gatau apa yang bakal aku rasain saat waktu itu datang. Waktu dimana aku dan mereka sudah tidak menghadap papan tulis yang sama. Dan akan mengalami masa yang berbeda setiap paginya. Tak akan ada lagi sorai nakal dari bibir sang putih abu-abu. Tak ada lagi hiruk pikuk karena tumpukan tugas. Tak ada lagi candaan yang membuat mataku terbelalak di depan kelas. Tak ada lagi teriakan kompak saat bel pulang sekolah berbunyi. Tak ada lagi...sudahlah, terlalu berat aku membayangkan apa yang akan terjadi besok. Yang besok, biarlah hadir dengan sendirinya di keesokan hari. Sekarang, yang ingin aku lakukan hanyalah kembali mengintip apa yang terjadi di dalam kelasku ini. Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini untuk mengisinya dengan ribuan canda tawa yang tak akan hadir lagi jika aku hanya duduk termenung memikirkan ketakutanku akan kehilangan mereka. Aku ingin menghabiskan semua hari yang tersisa dengan sejuta senyuman manis.

0 komentar on "Mata-mata Sekolah"

Posting Komentar